Our Blog

Ibu, Kehamilan, Umum

CARA MENGELOLA INSTING SAAT HAMIL

LEAVE A COMMENT

ANDA WAJIB TAHU CARA MENGELOLA INSTING SAAT HAMIL

 

 

Begitu hamil, biasanya calon bunda akan “kebanjiran” informasi; dari keluarga, teman-teman, praktisi kesehatan, bahkan dari orang tak dikenal yang mengantri di belakang Anda pada kasir swalayan. Berbagai nasehat tentang pola makan, tips menjaga kesehatan, how to memilih dokter,  nasehat ini,  nasehat itu, banyak sekali! Semakin banyak lagi jumlahnya bila ditambah informasi  parenting yang Anda dapat dari bacaan,  program televisi dan radio, atau broadcast di media sosial.

Terlalu banyak informasi, akhirnya membuat Anda jadi overload dan lama-lama mulai meragukan insting Anda sebagai calon ibu.

 

Berikut ini delapan cara mengasah insting ibu.

1. Berani memutuskan pilihan

Terimalah bahwa banyak nasehat dari orang artinya banyak orang peduli pada Anda. Selain itu, memiliki akses informasi soal kehamilan dan pengasuhan juga berguna kok, bagi calon ibu.   Anda boleh memerhatikan itu semua, namun  milikilah keyakinan terhadap pendapat  Anda sendiri.  Dr Andrew menyatakan, seringkali insting ibu adalah sumber referensi terbaik, karena tidak memiliki kepentingan atau hidden agenda.  Apa kata insting, semata-mata adalah apa yang Anda rasakan, dan yang paling tahu tentang Anda adalah diri Anda sendiri, bukan? Mendengarkan nesehat orang perlu,  tapi beranilah memutuskan suatu sesuai kata insting Anda, sepanjang tidak menimbulkan risiko bahaya bagi Anda dan bayi.Misalnya, meski pun menurut bidan, ada beberapa posisi menyusui yang ideal, namun kalau Anda merasa posisi menyusui  yang Anda pilih saat ini (yang belum ideal) sudah nyaman bagi Anda dan bayi, maka lanjutkan saja.

 

2. Abaikan tekanan teman sejawat

Parenting adalah isu sesama wanita.  Jadi ketika Anda hamil atau melahirkan,  semua sejawat wanita Anda cenderung memiliki sense of belonging terhadap kehamilan dan bayi Anda.  Mereka ingin Anda sukses memberi ASI eksklusif, sukses memberi MPASI, sukses menjaga kesehatan bayi, dan sukses-sukses lainnya. Bagi ibu baru, ini bisa menjadi tekanan.  Dan manakala Anda sedang kelelahan atau mood sedang jelek, tekanan-tekanan itu bisa memperburuk keadaan, misalnya, Anda merasa posisi Anda jadi inferior, sedang dikritik, bahkan sedang di-bully oleh teman-teman.  Allan Carr, profesor di bidang terapi keluarga dan penulis buku best seller  Family Therapy: Concepts, Process and Practice, menulis, pada suatu ketika, seorang ibu baru yang masih hijau sekali pun,  musti berani mengabaikan tekanan peer group. “Dengarkan kata insting.Ketika Anda merasa tak sanggup untuk melakukan sesuatu sesuai harapan orang banyak, maka jangan paksakan melakukannya.”

 

3. Jangan membandingkan Anda dengan ibu lain

Ibu itu berbeda-beda. Anda tidak perlu  mengukur kemampuan Anda sebagai ibu berdasarkan kemampuan ibu lain. Entah itu seorang bunda selebriti  yang   baru 3 bulan melahirkan tapi badannya sudah langsing kembali, atau teman Anda yang bisa bersalin per vagina, sukses IMD  dan berhasil lotus birth. Karena, bisa-bisa nanti Anda akan menganggap diri Anda ibu yang payah!  “Tidak ada gunanya membandingkan, sebab tiap-tiap ibu berada dalam situasi dan kondisi berbeda-beda”, ujar Andrew.  Gunakan insting Anda untuk mencek apakah kondisi Anda dan bayi aman dan baik-baik saja. Setelah itu, cukuplah Anda berempati terhadap  ibu dan bayi yang kondisinya lebih buruk dari Anda, dan bersyukur atas kondisi Anda saat ini.   

 

4.  Hadapi satu per satu

Tidak mungkin mengontrol setiap situasi agar selalu sejalan dengan harapan, sesuai isi text book, atau seideal kata-kata dokter dan ibu mertua.  Dengan kata lain, jangan buru-buru mencap diri Anda gagal, ketika belum berhasil melakukan sesuatu seperti kata teori. Rita Princi, Master di Bidang Psikiologi Klinis, anggota Australia Psycological Society menulis, “Pada kasus pemberian ASI misalnya. Seorang ibu yang  ASI-nya belum keluar dalam beberapa hari setelah melahirkan –padahal ia sudah memersiapkan payudara sebaik mungkin- sebaiknya tidak buru-buru menyatakan dirinya gagal menyusui. Karena, periode menyusui eksklusif adalah selama  6 bulan,  dilanjutkan hingga dua tahun.  Belum menyusui beberapa hari,  bukan berarti sudah gagal, lalu ibu mulai stres memikirkan susu pengganti ASI atau mencemaskan kesehatan bayinya.” Menurut  Rita, hadapilah masalah satu per satu, dan katakan pada diri Anda untuk bersabar.  Anda sudah cukup berusaha mengeluarkan ASI untuk hari ini. Bila belum berhasil, maka bisa dilanjutkan besok. 

 

5. Kelola ekspektasi

Memang wajar untuk memiliki harapan idealatas sesuatu. Misalnya,harapan ideal Anda adalah bayi Anda yang diberi ASI eksklusif tidak akan sering sakit batuk pilek.  Tetapi, mencoba merealisasikan harapan itu sekuat tenaga ke dalam kehidupan nyata, menurut Andrew, akan memberi Anda beban hidup yang tidak perlu.  “Realistis saja. Yang bisa Anda lakukan adalah menciptakan kondisi dan lingkungan sehat untuk bayi agar ia tidak gampang sakit, misalnya dengan memberi ASI eksklusif dan menjaga kebersihan tubuh serta lingkungan. Yang tidak bisa Anda lakukan adalah membuat bayi selalu sehat,”  kata Rita. Jadi, bersikap realistislah terhadap apa yang bisa, dan tidak bisa,  Anda lakukan. Selain itu, rendahkan sedikit ekspektasi,  sehingga bila Anda meraih keberhasilan-keberhasilan kecil, itu akan menjadi kejutan menyenangkan.

                                                                              

6. Lihat konteks keseluruhan

Contoh ilustrasinya begini, memang mudah untuk merasa jengkel manakala bayi Anda rewel dalam perjalanan menuju ke tempat liburan. Namun, barangkali kerewelannya hanyalah satu peristiwa kecil yang akan mewarnai liburan keluarga yang menyenangkan. “Kalau mood Anda sedang tidak baik, Anda cenderung untuk membesar-besarkan masalah, dan mengecilkan banyak kesenangan-kesenangan,”  kata Andrew. Menurutnya,  ini adalah sikap negatif yang tidak sejalan dengan suara insting. Insting Anda akan memberi “alarm”, kok, untuk ancaman yang betul-betul berbahaya.  Namun  insiden kecil bukan lah awal atau pertanda dari bencana besar.  Jadi, lihatlah the bigger picture. Liburan keluarga Anda tetap bisa menyenangkan, meski bayi sempat rewel di jalan. Malah pengalaman ini membuat Anda jadi kompeten menangani bayi rewel pada lain kesempatan.

 

7. Fokus pada saat ini

Memang bagus memiliki target atau rencana jangka pnjang.Tapi, terimalah kenyataan bahwa seringkali situasi saat sekarang lah yang memengaruhi keputusan Anda.  Contoh, Anda berkomitmen memberi bayi MPASI rumahan.  Itu sebabnya Anda uring-uringan ketika terpaksa memberi bayi MPASI siap saji, gara-gara hari itu Anda sibuk dan lelah.  Dengan fokus terhadap situasi saat ini, “Saya tidak punya waktu untuk menyiapkan MPASI dan bayi sudah lapar” – bukan fokus pada komitmen jangka panjang- maka Anda akan merasa  lebih relaks dan bahagia.  “Fokus lah pada saat ini.  Insting Anda mengatakan Anda dan bayi baik-baik saja. Kalau Anda  berorientasi pada masa depan terus, Anda bisa mudah cemas,” ujar Andrew.

 

8. Tepuk Bahu Anda Sendiri

Menepuk bahu, biasa dilakukan orang terhadap orang lain yang berhasil meraih prestasi dan berhak atas pujian. Inilah bahasa tubuh dari ungkapan “Well done” atau “Sukses, ya, kamu hebat!”. Nah, Anda musti selalu mengingatkan diri sendiri bahwa Anda adalah bunda yang kompeten, dan sanggup  mengatasi setiap tantangan di dunia pengasuhan.  Akui  selama ini Anda sudah bekerja dengan baik dalam aneka situasi, dan berilah diri Anda hadiah, misalnya berbentuk me time. Traktir diri sendiri sebatang coklat, atau bacalah majalah terbaru sambil bersantai.  Bangga dan hargai diri sendiri, karena telah menjadi seorang ibu yang baik.

 

 

ARTIKEL LAIN...

-babylonish-

http://www.ayahbunda.co.id/

 

SHARE

Follow Us On:
x