Our Blog

Anak, Ibu, Keluarga, Umum

Merancang Ramadhan yang Indah bagi Anak

LEAVE A COMMENT

Merancang Ramadhan yang Indah bagi Anak



Mengantarkan anak berpuasa dan memahami maknanya, sungguh bukan merupakan pekerjaan mudah namun bisa jadi menantang dan indah. Keberhasilan yang kita harapkan memerlukan persiapan pengetahuan kita sebagai orang tua, mental dan program sejak jauh hari. Berikut adalah beberapa kiat merancang Ramadhan yang terbaik bagi anak.
 
1. Ciptakan imajinasi lewat cerita

Anak-anak suka akan imajinasi dan selalu terpesona oleh cerita. Karena itu jauh sebelum Ramadhan datang orangtua yang rajin akan mengumpulkan kisah-kisah menarik seputar Ramadhan. Pilihlah kisah-kisah keteladanan perjuangan Sahabat dan Rasulullah SAW di bulan Ramadhan. Termasuk pengalaman-pengalaman masa kecil orang tua pun akan menyenangkan bagi anak-anak. Jadi mood dan chemistry Ramadhan sudah terasa pada diri anak menjelang Ramadhan datang dan menjadi energi berlimpah ketika menjalani Ramadhan.
 
2. Ciptakan suasana baru yang istimewa

Penampilan ruangan atau kamar yang baru bisa memberi citra khusus di hati anak tentang bulan mulia ini. Niat orangtua untuk mengganti warna cat rumah, mengapa tidak mengambil momen Ramadhan ini? Dengan melakukannya sebelum bulan suci, kita akan terhindar dari terganggunya kekhusyukan ibadah yang lebih banyak lagi dan akan menambah kegembiraan Idul Fitri nantinya. Menghias kamar anak dengan suasana baru dalam rangka menyambut datangnya Ramadhan, juga satu ide yang akan menambah motivasi anak untuk belajar berpuasa.

3. Rencanakan menu khusus

Membiasakan anak bangun sahur bukan hal yang ringan. Orangtua perlu merancang jadwal khusus dan istimewa untuk membuat anak mau membuka mata dengan gembira. Menyediakan minuman serta snack kegemaran anak yang jarang didapatnya di luar bulan Ramdhan, bisa dijadikan salah satu cara. Jangan lupa hidangkan menu sahur yang istimewa, sesuai selera anak.

4. Gembirakan ibadahnya

Perasaan senang tanpa tekanan dalam beribadah sangat penting bagi anak-anak. Jika ibadah merupakan paksaan, di memorinya akan tersimpan secara tidak sadar, bahwa ibadah identik dengan tekanan.

Jangan pernah memaksa anak untuk berpuasa atau ibadah lain. Yang dapat dilakukan orang tua adalah mengkondisikan lingkungan bermain dan kehidupan sehari-hari anak dengan menyenangkan, sehingga anak akan tertarik untuk mulai turut mencoba. Misalnya dengan mengundang kawan-kawannya berbuka puasa di rumah, atau mengajak teman-teman mereka untuk menginap dan sahur bersama.

5. Sesuaikan tahapan dengan usia

Sebagai tahap awal, ijinkan kapan saja berbuka manakala mereka sudah tak kuat bertahan. Namun beri pengertian agar kemampuan berpuasanya ditingkatkan, atau minimal sama dengan sebelumnya. Buat catatan yang jelas mengenai jadwal berbuka setiap hari. Motivasi anak untuk selalu membuat statistik yang meningkat, atau minimal tetap.

Jika semula berbuka pukul 9, mungkin tiga hari kemudian pukul 10, kemudian meningkat pukul 11, hingga akhirnya mencapai adzan dzuhur. Dari yang semula berbuka di adzan dzuhur bisa bertambah hingga adzan maghrib. Ide untuk selalu berpuasa setelah berbukapun perlu dicoba. Jangan lupa untuk mengikutsertakan anak-anak pada saat berbuka di waktu maghrib, walau mereka telah berbuka sebelumnya, atau belum puasa sama sekali. Berbuka merupakan peristiwa rohani yang membahagiakan mereka.

6. Sesuaikan program dengan keunikan anak

Perlakukan anak-anak sebagai individu yang utuh (the whole child). Sesuaikan program Ramadhan  dengan pikiran, emosi, imajinasi, dan sifat alamiah sesuai keunikan masing-masing anak. Ayah dan Ibu adalah orang yang paling paham keunikan anak-anak mereka. Silahkan berkreasi untuk menciptakan gairah beribadah mereka. Misalnya, apakah si Annisa mudah bangun pagi atau apakah Ahmad lebih sulit disuruh makan? Coba pelajari apakah ada sifat khusus anak yang mungkin menyulitkannya melaksanakan ibadah Ramadhan. Misalnya anak yang gemar makan, maka harus dicari kiat yang tepat agar anak tahan tidak makan selama jam berpuasa. Inilah tugas penting sang ibu.

7. Pengalaman untuk membangun mental psikologis

Membangun mental psikologis anak, bisa dilatih sedini mungkin. Diawali dengan mengajak anak untuk ikut bangun saur dan biarkan ia melihat aktifitas anggota keluarga saat saur dan merasakan nikmatnya kebersamaan. Di saat saur, anak akan melihat bagaimana semua anggota keluarga walaupun mengantuk namun tetap memaksakan diri untuk bangun dan makan bersama di satu meja.

Menjelang pagi, rutinitas berjalan seperti biasa. Tapi si anak merasakan ada yang lain kali ini. Ibu, Ayah atau kakak-kakaknya tidak ada yang sarapan pagi. Bahkan sampai siang ia tetap tidak melihat seorang pun makan. Bila saat buka puasa tiba. Dia akan melihat bagaimana semua anggota keluarga berkumpul lagi. Bagaimana nikmatnya ketika seharian menahan lapar, lalu berbuka bersama dengan aneka makanan yang belum tentu ada pada hari biasa.

Pengalaman dan kebiasaan-kebiasaan yang dilihat dan dirasakan oleh anak inilah yang akan membangun psikologis ia nantinya. Karena faktor psikologislah yang berperan penting untuk mengatur kapan ia ingin berpuasa, sampai berapa lama, dsb. Umur tidaklah menjadi ukuransaklek. Jadi, biarkan anak merasakan sendiri nikmatnya berpuasa, tanpa adanya tekanan dari orang tua. Kita sebagai orang tua cukup memberi contoh yang baik kepada mereka.
 
8. Siapkan kondisi lingkungan yang mendukung

Upayakan tidak banyak menghabiskan waktu di tempat konsumtif seperti mal atau tempat hiburan atau permainan yang membuat letih dan kehilangan makna Ramadhan. Jangan biarkan makanan dan minuman apapun berada pada jangkauan pandangan anak-anak. Kosongkan meja dan lemari makan. Beri pengertian pada adik agar tidak makan di depan kakak yang berpuasa. Bahkan gambar-gambar yang dapat memunculkan air liurpun sebaiknya disimpan lebih dulu.

9. Menciptakan aktifitas kreatif

Dalam sebuah riwayat diceritakan, ketika Rasulullah SAW mengutus seseorang pada hari Asyura ke perkampungan orang-orang anshar dan berkata, “Siapa yang pagi ini berpuasa maka hendaklah ia berpuasa dan menyempurnakan puasanya. Mereka bercerita, Maka kami berpuasa pada hari itu dan kami mengajak anak-anak kami berpuasa. Mereka kami ajak ke masjid, lalu kami beri mereka mainan dari kapas. Jika mereka menangis minta makan kami berikan mainan itu, sampai datang waktu berbuka.” (HR.Bukhari-Muslim).

Alihkan perhatian anak-anak dari rasa lapar dan haus dengan permainan, baik buatan sendiri maupun yang tersedia di toko. Misalnya mewarnai, meronce, menggambar dan lain-lain. Sejak jaman Rasulullah, para sahabat muslimah telah merancang kreativitas bagi anak-anaknya, khusus untuk menggembirakan hati mereka agar melupakan waktu yang terasa berjalan lambat selama berpuasa.

10. Semarakkan amaliah Ramadhan

Menyemarakkan Ramadhan dengan memperbanyak amaliah bulan Ramadhan akan memberikan suasana khas keceriaan Ramadhan yang akan turut membantu membangkitkan semangat berpuasa. Memperbanyak mengajar Al-Qur’an pada anak, mengajak shalat Tarawih dan mengajak anak mengirim makanan berbuka ke tetangga, dll.

11. Rencanakan reward harian dan bulanan

Memberi hadiah atas usaha anak bisa menambah motivasi. Kepada anak usia 7 tahun, hadiah di akhir Ramadhan akan membuat mereka bersemangat. Namun bagi anak yang lebih kecil, akan lebih efektif jika diberi hadiah harian. Hadiah harian bisa berupa barang sederhana, atau bahkan hanya berupa bintang dari kertas emas yang ditempel di dinding. Janjikan sebuah hadiah jika bintangnya mencapai 10, 20, atau 30. Hadiah bulanan bisa merupakan kelanjutan dari hadiah harian, dan merupakan sesuatu yang sangat diinginkan anak.

12.  Perhatikan saat-saat kritis

Biasanya anak begitu bergairah untuk berpuasa dan melakukan ibadah pada awal-awal bulan Ramadhan, tetapi menjelang pertengahan bulan, anak mungkin sudah merasa lelah sehingga enggan berpuasa. Orang tua yang bijak harus mengantisipasi saat-saat kritis ini justru dengan memberikan kegiatan dan kreatifitas yang paling menarik bagi anak. Berhati-hati pula saat-saat usai Ashar setiap harinya. Di sore hari anak mungkin merasa sangat lapar, lelah dan jemu menunggu. Disaat-saat seperti itu mereka sangat membutuhkan perhatian dari orang tua. Jangan hanya sibuk menyiapkan buka puasa sehingga menelantarkan mereka. Justru disaat-saat inilah orang tua perlu mengajak anak untuk melakukan berbagai jenis kegiatan yang tidak banyak membutuhkan kekuatan fisik.



ARTIKEL LAIN...

~babylonish~

Sumber:
http://www.anakku.net/

SHARE

Follow Us On:
x